From our Blog

Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2018

PRANG CUMBOK; perang saudara di ACEH


Abdurrahman, warga Gampong Cumbok Lie yang menjadi saksi perang saudara ulee balang dan ulama di Cumbok.

Tak butuh waktu lama bagi Abdurrahman, 72 tahun untuk mengingat kembali tragedi Perang Cumbok, 67 tahun silam. Warga Gampong Cumbok Lie, Kecamatan Sakti, Pidie tersebut adalah salah seorang saksi hidup revolusi sosial Cumbok.

Dia mengerutkan dahinya sejenak. Lalu menuturkan masa kelam itu dengan sangat hati-hati pada perang saudara sesama muslim dan sesama etnik Aceh.

“Cumbok adalah perang merebut kekuasaan,” ungkap Abdurrahman membuka bibir mulutnya kepada The Globe Journal, Selasa 28 Maret lalu.

Pria yang uzur ini menyebutkan, perang itu meletus karena adanya perebutan kekuasaan antara kubu uleebalang dengan tokoh-tokoh ulama yang tergabung dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II.

Ketika itu, sambung Abdurrahman, sebagian uleebalang merasa lebih tinggi kedudukannya daripada PUSA sehingga kaum ningrat itu menolak untuk tunduk kepada PUSA.

Patut dicatat, kaum ulama berusaha mati-matian mengantar Aceh untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, sebagian uleebalang justru berkeinginan menyambut Belanda agar mereka bisa berkuasa lagi seperti sebelumnya.


“Nagasaki dan Hirosima telah di bom Amerika. Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu. Saat itulah terjadi perpecahan di Aceh. PUSA memilih NKRI dan ulee balang ingin menyambut kembali kedatangan Belanda. Sebagian ulee balang yang lebih berpendidikan dan lebih paham masalah administrasi negara. Oleh sebab itu mereka tak ingin ikut PUSA,” jelas Abdurrahman.

Abdurrahman menerangkan, pada dasarnya pimpinan Perang Cumbok, Teuku Muhammad Daud Cumbok yang akrab di sebut Teuku Cumbok berada pada posisi sulit.

Dia tak ingin terjadi pertumpahan sesama anak bangsa. Namun, karena didesak oleh uleebalang-uleebalang lain, Daud Cumbok mau tak mau menjalankan misinya untuk mengambil kembali kekuasaan penuh tanpa campur tangan PUSA.

“Teuku Daud Cumbok tak ingin berperang. Tapi karena dia Gunco (setingkat Bupati) Lammeuloe (sekarang Kota Bakti). Teuku Cumbok pun mempertimbangkan kemauan anak-anak buahnya. Dan perang pun tak bisa dielakkan,” katanya lagi.

Saat ditanyai The Globe Journal mengenai peperangan di Gampong Cumbok dan Kota Bakti, Abdurrahman menelan ludah berulang kali. Pahit untuk mengutarakannya. Masa kelam itu mesti menjadi catatan agar tidak terulang lagi.

“Namanya juga perang, jadi serba menakutkan. Kedua pihak saling membunuh. Tak ada belas kasihan. Armada Cumbok ada dua, Cap Saoh dan Cap Bintang. Cap Saoh itu pasukan perang handal, semacam tentara. Dan Cap Bintang, pasukan penjaga kota. Seperti polisilah kerjanya,” ujarnya.

Abdurrahman mengingatkan kembali lakap lama yang telah lama tak disebutnya, “Tuentera Cap Saoh pinyampuh uteun, Meutareum jeut keu abee (Tentara Cap Saoh sapu hutan, Meutareum pun jadi abu).”

Faktor kemenangan PUSA pada saat itu, menurut Abdurrahman, karena bantuan peralatan perang Jepang.

“Jepang yang membantu PUSA, sehingga bisa memenangkan Perang Cumbok. Pada saat-saat terakhir, meriam di Gle Gapui Pidie diarahkan ke markas pasukan Cumbok di Meunasah Blang, Kota Bakti, tepat mengenai sasaran setelah tiga kali tembak,” ingat Abdurrahman.

“Pada saat itulah pasukan Cumbok kocar-kacir. Dan rakyat yang marah akan perangai mereka membunuh dengan membabi-buta, semua yang terlibat dengan pasukan Cumbok. Termasuk anak-anak laki-laki keturunan uleebalang yang tak bersalah,” lirik Abdurrahman pahit mengenang nestapa saling membunuh sesama anak negeri.

Rabu, 13 Juni 2018

40 tahun Dalam Perantauan Pisah Dengan Orang Tuanya

40 tahun Dalam Perantauan Pisah Dengan Orang Tuanya

Selama 40 tahun, seorang pria Indonesia harus menyimpan tanya soal siapa sosok orangtua kandungnya. Sebab, pria bernama Andre Kuik ini telah berpisah dengan orangtuanya saat dirinya baru berusia 4 hari. Andre diadopsi oleh warga Belanda selama 40 tahun dan tinggal di negeri Kincir Angin itu.

Andre juga sudah memiliki istri berkewarganegaraan Belanda dan telah memiliki seorang anak. Beruntung, Andre Kuik berhasil bertemu ibu kandung serta keluarganya yang ternyata berasal dari Lampung.

Berikut fakta-fakta soal kisah Andre Kuik yang berhasil bertemu ibu kandung dan keluarganya, dikutip dari BBC Indonesia.

1. Dipisahkan Saat Usia 4 Hari

Andre telah bertemu dengan ibu kandungnya yang diketahui bernama Kartini. Ia juga memiliki kakak kandung bernama Wlly dan Untun, serta seorang adik bernama Dewi Agustina.

"Seneng banget, anak hilang iso ketemu meneh (bisa bertemu kembali), iso balik meneh (bisa kembali lagi), anak lanang bisa balik (anak laki-lakiku bisa kembali), " kata Kartini dalam bahasa Indonesia dan Jawa.

Diketahui, Kartini hanya sempat menggendong dan menyusui Andre ketika baru lahir sampai berusia empat hari pada Februari 1978.

Ayah Andre, Theo Kohler, yang diperkirakan memiliki darah campuran Jawa dan Eropa, mendesak Kartini untuk meninggalkan anak laki-laki ketiganya di rumah sakit Panti Secanti, Gisting Lampung.
Kartini sempat kembali lagi ke rumah sakit bersama dua anaknya Wely dan Untung, namun tidak dapat menemui anaknya.

"Katanya udah nggak bisa ketemu, sampai di rumah saya ngomong sama suami, marahlah kok ibu ga boleh ketemu anaknya, suami diam saja," ungkap Kartini.

Setelah itu dia tak pernah mendengar kabar bayinya yang tak sempat diberi nama. " Sempat ingin mencari tapi ke mana, saya sempat sakit mikirin anak hilang," ujar Kartini.

Dia terus bertanya kepada suaminya mengenai keberadaan Andre, namun tak pernah mendapatkan jawaban. Ketika hamil anak keempat, Theo meninggalkan Kartini dan tak terdengar kabarnya sampai sekarang.

2. Diadopsi Warga Belanda saat Usia 5 Bulan

Pada usia lebih dari empat bulan, Andre diadopsi warga Belanda Jan Kuik dan Mieke Kuik.
Dalam dokumen adopsi dan akta notaris, orang tua angkat Andre mendapatkan anak angkatnya dari Yayasan Pangkuan si Cilik di Jakarta yang dipimpin oleh Lies Darmadji pada 23 Juni 1976.
Tak jelas bagaimana Andre bisa berada di Yayasan tersebut ketika masih bayi.

Dari Jakarta, Andre dibawa pasangan Kuik ke Den Ham Belanda. Di sana Andre dibesarkan bersama kakak angkat laki-laki dan perempuan asal Thailand dan adik angkat dari Indonesia.

3. Lakukan Pencarian Tapi Tak Berhasil

Andre pun tumbuh kembang di Belanda. Seringkali terbersit Andre untuk mengetahui soal orangtua kandungnya serta keluarganya.

Lalu, Pada 2013 lalu, Andre dan Marjolein berkunjung ke Indonesia dan dia menyempatkan diri ke Lampung. Kunjungan pertama ke negara asalnya itu meninggalkan kesan mendalam.

"Saya merasa saya berada di komunitas saya sendiri, warna kulit saya sama, keramahan, dan itu terasa mendalam pada diri saya," ungkap Andre.

Setahun berikutnya, Andre dan Marjolein sempat mencari orang tuanya lewat para suster di Rumah Sakit Panti Secanti tempat dia lahir.

Meski sempat bertemu dengan seseorang yang mengenal ayahnya, dia tak berhasil menemukan keluargannya.

"Suster di klinik tempat saya lahir, menawarkan diri untuk ikut mencari, kebetulan ada kenalan dari orangtua saya di Gisting, Lampung, dia bisa sedikit cerita tentang orang tua saya," jelas Andre.

Namun pertemuan dengan kenalan ayahnya di masa muda tak memberinya petunjuk berarti untuk dapat menemukan orang tuanya.

"Selain itu, kami sempat juga berhubungan dengan beberapa orang lain untuk mencar, karena tak mendapat petunjuk yang jelas, lalu kami berhenti mencari," kata Marjolein.

Meski begitu, Andre tetap menyimpan keinginan bertemu dengan orang tua kandungnya, terutama setelah kelahiran putranya yang kini berusia 1,5 tahun.

Pada akhir 2017, Andre mendengar kabar dari rekannya di Belanda yang berhasil bertemu dengan orang tua kandungnya di Indonesia.

Peristiwa itu membuat Andre kembali melakukan pencarian dengan bantuan Yayasan Mijn Roots.
"Saya berusia 40 tahun dan saya menganggap orang-orang di sini tidak berumur panjang, saya pikir kalau saya tidak menemukan mereka sekarang, kapan lagi," jelas Andre.

Berbekal dokumen adopsi dari orang tua angkatnya, pencarian keluarga kandungnya pun dimulai.

4. Akhirnya Bertemu Ibu Kandung Usai Tes DNA

"Kalau dokumen tidak begitu jelas, namun kita dapat informasi dari orang-orang yang waktu itu pernah tinggal dengan orang tuanya, kami merasa yakin dapat menemukan itu," jelas Eko Murwantoro, tim pencari orang tua kandung dari Yayasan Mijn Roots.
Untuk memastikan Kartini merupakan orang tua Andre, Yayasan Mijn Roots melakukan tes DNA dan hasilnya positif.

Andre merupakan salah satu dari 24 anak adopsi warga Belanda yang berhasil kembali bertemu dengan keluarga mereka melalui bantuan Yayasan Mijn Roots.

Andre pun tak dapat menahan tangis ketika pertama kali bertemu ibu kandungnya, setelah 40 tahun.
Bagi Andre Kuik dan pasangannya, Marjolein Wissink, perjalanan ke Lampung pada pertengahan April lalu, merupakan yang ketiga kalinya.

5. Ikut Buat batu Bata

Saat ini Andre telah mengetahui bahwa dia memiliki dua kakak laki-laki Wely dan Untung serta seorang adik perempuan Dewi Agustina. Salah satu kakaknya, Untung telah meninggal saat masih kecil karena sakit.

"Kalau wajahnya mirip sama ayahnya," kata Kartini sambil menatap wajah anaknya yang ketiga itu. Senyum mengembang di wajahnya.

Andre mengaku lega ketika mengetahui Kartini tidak berniat menyerahkan dirinya dan pernah menyusuinya selama empat hari.

"Saya tahu ia tidak berniat menyerahkan saya," kata Andre.

Dalam kunjungan yang berlangsung sekana satu pekan, Andre tampak ingin lebih jauh mengenal keluarganya, melalui makanan, kebiasaan dan pekerjaan mereka, antara lain ikut ke sawah dan melihat pembuatan batu bata, yang menjadi pekerjaan sehari-hari kakak dan adiknya, "Saya akan belajar bahasa Indonesia, sehingga bisa berkomunikasi secara langsung ketika saya kembali lagi (ke sini) tahun depan," kata Andre >>>

inilah video sedih nya...




IRWANDI YUSUF KEMBALI MELAKSANAKAN IBADAH UMRAH - II

IRWANDI YUSUF KEMBALI MELAKSANAKAN IBADAH UMRAH - II
Irwandi Yusuf Bersama Isteri Tercintanya Darwati A. Gani.
Sedang Melaksanakan Umrah di Tanah Suci yang Ke - II
Banda Aceh | Bulan suci ramadhan 1439 H tahun ini, sepertinya benar-benar dimanfaatkan secara maksimal oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Bayangkan, di tengah kesibukkannya menjalankan tugas serta lawatan ke beberapa negara  seperti Jepang. Dia masih menyempatkan diri untuk melaksanakan ibadah umrah bersama keluarga. Itu sebabnya, sejak tiga hari lalu, beredar informasi, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, kembali menuju tanah suci, Mekah dan Madinah, Arab Saudi.

Kepergian ibadah kedua ini memang ‘misteri’ dan cenderung tertutup. Baik kepada publik maupun orang dekat. Berbeda dengan keberangkatannya bersama keluarga, awal Juni 2018 lalu. Irwandi bahkan mengunggah beberapa foto di media sosial (medos) facebook dan instagram. Hingga berita ini diwartakan, tak jelas soal kebenaran informasi tadi dan dengan siapa Irwandi melaksanakan ibadah umrah tersebut. Termasuk, apakah ada izin dari Kemendagri RI, Jakarta. "Infonya sangat tertutup. Tapi kabar yang kami dapat, ada dugaan umrah BW (Bang Wandi) kali ini benar-benar bersifat pribadi," ungkap seorang yang mengaku dekat dengan BW, sebutan akrab Irwandi Yusuf.

Sayangnya, Karo Humas Setda Aceh Rahmat Raden tak berhasil tersambung dengan media ini.  Dihubungi melalui telpon seluler, Rahmat dan mengangkatnya. Bisa jadi, karena sudah melaksanakan libur Idul Fitri, 1 Syawal 1439H. Sementara, juru bicara Pemerintah Aceh Saifullah A.Gani mengaku tidak tahu. “Sejauh ini saya tidak dapat info tentang hal tersebut. Terima kasih,” tulis Saifullah melalui WhatsApp, Senin sore (11/6/2018). Aneh juga ya?

Sebelumnya, karena alasan ibadah umrah itulah, Irwandi tak hadir dalam sidang paripurna istimewa mendengarkan jawaban Gubernur Aceh terhadap Hak Interpelasi DPRA di Gedung DPRA, Senin (4/6/2018) hari ini, ternyata cukup beralasan. Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf bersama keluarga saat ini sedang berada di Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Makanya, Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengirimkan surat ke DPRA meminta pimpinan DPRA untuk menjawal ulang sidang paripurna istimewa dalam rangka mendengarkan Jawaban Gubernur Aceh terhadap Hak Interpelasi DPRA.

Surat itu dilayangkan Pemerintah Aceh yang ditandatangani Nova selaku Wakil Gubernur Aceh pada 31 Mei lalu. "Kami beritahukan bahwa pada 4 Juni 2018, Gubernur Aceh masih melaksanakan ibadah umrah di Arab Saudi. Untuk itu kami mengharapkan rapat paripurna istimewa dalam rangka mendengarkan jawaban Gubernur Aceh terhadap Hak Interpelasi DPRA dapat dijadwalkan kembali," demikian bunyi surat tersebut.

Senin, 21 Mei 2018

Prabowo Malu dengan Mahathir Mohamad (PM Malaysia), Kenapa ?

Prabowo Malu dengan Mahathir Mohamad, Kenapa?


Di usianya yang menginjak 92 tahun, Mahathir Mohamad kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia. Kemenangan Mahathir atas petahana Najib Razak sekaligus menjadi kekalahan perdana Barisan Nasional semenjak Malaysia merdeka 60 tahun silam.

Kemenangan Mahathir ini menginspirasi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memantapkan diri di Pilpres 2019 mendatang.

Selasa, 28 Maret 2017

ARKEOLOG : Peresmian Titik Nol Islam di Barus adalah Penistaan SEJARAH ISLAM ACEH

ARKEOLOG : Peresmian Titik Nol Islam di Barus adalah Penistaan SEJARAH ISLAM ACEH
Dr. Husaini Ibrahim, M.A.

Arkeolog Universitas Syiah Kuala Dr Husaini Ibrahim, M.A, menilai peresmian tugu  titik nol kilometer peradaban islam  nusantara di Barus, Sumatera Utara, Jumat, 24 Maret 2017 lalu oleh Presiden Joko Widodo adalah penistaan terhadap sejarah.

Dr Husaini kepada wartawan di Banda Aceh, Senin 27 Maret 2017 mengatakan, berdasarkan  bukti arkeolog, nisan di Aceh merupakan nisan tertua di nusantara, bahkan perkembangan nisan Aceh mencapai,  Kalimantan, Sulawesi, Banten, Brunei Darussalam,  Filipina, bahkan mencapai Barus itu sendiri.

Ia menambahkan, tidak ada bukti nisan tertua berasal dari Barus yang dinyatakan lebih tua dari nisan di Aceh. Bahkan Nisan Barus tidak berkembang di nusantara, karena nisan yang ada di Barus sendiri, merupakan perkembangan dari batu nisan Aceh.

“Tapi ketika tiba-tiba ada yang mengatakan Barus kawasan Islam tertua ini saya pikir sebuah penistaan terhadap sejarah, karena tidak melalui telaah yang mendalam, mestinya perlu diseminarkan lagi, diundang para tokoh, pakar, boleh saja orang menulis tapi  dengan bukti yang nyata,” kata Husaini.

Husaini menilai peresmian tugu Titik Nol Kilometer Peradaban Islam di Nusantara beberapa waktu lalu sangat sarat dengan kepentingan politik.

“Ketika ini dikembangkan ada dana yang masuk maka ada kelompok tertentu yang bisa memanfaatkannya , tapi di sisi lain akan timbul perdebatan-perdebatan lainnya,” katanya.

Meskipun dalam  peta kuno sejumlah daerah seperti Lamuri, Barus, Batak telah disebutkan, namun Barus tidak lebih dari kawasan perdagangan, karena dalam perkembangannya, Barus merupakan bagian dari kerajaan Aceh Darussalam.

“Padahal kita sudah mengetahui di buku-buku sekolah disebutkan ada Perlak ada Samudera Pasee dan yang terakhir kita meneliti termasuk Lamuri, kita bisa melihat ada batu nisan, itu yang tertua bisa dilihat 1007 masehi, berarti jauh hampir 300 ratus tahun sebelum Malikussaleh sudah ada batu nisan  tertua di Lamuri, ini Islam tertua di nusantara,” kata Husaini.

“Tapi tidak ada masalah dari sudut sejarah, karena pengkajian sejarah banyak dinamika-dinamika, jadi kita harus belajar banyak tentang apa yang dilaukan sekarang ini, jadi ada perubahan dalam ilmu pengetahuan wajar, tapi yang penting jangan menistakan sejarah,” katanya lagi

sumber; mediaaceh.co

Senin, 20 Maret 2017

Inilah Daftar 9 WALI NANGGROE ACEH dari Masa ke Masa

Inilah Daftar 9 Wali Nanggroe dari Masa ke Masa


Pertanyaan tentang siapa Wali Nanggroe (WN) pertama sampai delapan setelah ditetapkan Tgk Malik Mahmud Al Haytar sebagai WN Ke-9 saat pengesahan Rancangan Qanun (Raqan) WN menjadi Qanun oleh DPRA, Jumat (2/11) sore terjawab sudah.

Adalah Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA), Tgk Muhammad Yahya Muaz SH yang menjelaskan nama-nama wali nanggroe pertama sampai sembilan saat menjadi narasumber pada acara Sosialisasi Kebijakan Politik Pemerintah Aceh yang dilaksanakan Badan Kesbangpol dan Linmas Aceh di aula kantor setempat, Senin (12/11).

Penjelasan itu disampaikan Yahya Muaz menjawab pertanyaan Yusri Abdullah, salah seorang peserta pada sesi tanya jawab pada acara tersebut.

Inilah Daftar 9 Wali Nanggroe dari Masa ke Masa :


1. Tgk Chik di Tiro Muhammad Amin bin Muhammad Saman
2. Tgk Chik di Tiro Abdussalam bin Muhammad Saman
3. Tgk Chik di Tiro Sulaiman bin Muhammad Saman
4. Tgk Chik di Tiro Ubaidillah bin Muhammad Saman
5. Tgk Chik di Tiro Mahjuddin bin Muhammad saman
6. Tgk Chik Ulèë Tutuë alias Tengku Tjhik di Garôt Muhammad
7. Tgk Chik di Tiro Muaz bin Muhammad Amin
8. Tgk Hasan Muhammad di Tiro
9. Tgk Malik Mahmud Al Haytar

Sebelumnya, pada sosialisasi itu, Yahya Muaz menyampaikan materi berjudul “Peran dan Kedudukan Bendera, Lambang, dan Himne Aceh menjadi Simbol dan Indentitas Aceh ke depan sebagai Implementasi UUPA Sesuai Amanah MoU Helsinki.”

Menurutnya, pergantian WN Ke-1 sampai delapan semuanya karena WN sebelumnya meninggal dunia (syahid). Terhadap pertanyaan peserta lainnya yaitu Husniati Bantasyam yang mempersoalkan mengapa WN tak dipilih oleh rakyat seperti gubernur, Tgk Yahya Muaz mengatakan, wali nanggroe tak dipilih oleh rakyat karena wali nanggroe bukan lembaga politik atau pemerintahan.

“Jika wali nanggroe dipilih oleh rakyat, itu bertentangan dengan UUPA. Wali nanggroe adalah pemersatu dalam sistem dan peradaban rakyat Aceh,” ujarnya. Penjelasan hampir sama juga disampaikan narasumber lainnya Prof Dr Husni Jalil SH MH (Dosen Fakultas Hukum Unsyiah) dan Barlian AW (pemerhati sosial budaya).

Terkait klausul lain dalam Qanun WN yang dalam beberapa waktu terakhir ramai diperdebatkan yaitu soal syarat calon WN harus fasih berbahasa Aceh yang juga ditanyakan peserta sosialisasi itu, Tgk Yahya Muaz mengatakan, perdebatan itu terjadi karena orang salah menafsirkan bahasa Aceh yang dimaksudkan dalam qanun tersebut.

“Bahasa Aceh adalah semua bahasa yang ada di Aceh seperti bahasa Gayo, Tamiang, Kluet, dan Aneuk Jamee. Cuma selama ini, orang salah mengklaim seolah-olah bahasa Aceh adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir,” jelasnya.

Isu lain yang muncul dalam diskusi itu antara lain peserta berharap sosialisasi qanun WN harus dilakukan sampai ke daerah-daerah agar masyarakat lebih memahami isi qanun tersebut.

Peserta sosialisasi itu juga berharap wali naggroe menjadi milik seluruh rakyat Aceh dan bukan milik kelompok tertentu. “Manfaat Wali Naggroe Aceh harus bagi keseluruhan rakyat Aceh,” pinta seorang peserta kegiatan itu.

Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Aceh, Drs Bustami Usman SH MSi, saat membuka acara tersebut antara lain menjelaskan, sosialisasi itu diikuti 100-an peserta yang terdiri dari aparatur pemerintahan, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, camat, mukim, ormas/OKP, dan sejumlah elemen masyarakat lainnya dari Banda Aceh dan Aceh Besar.

Bustami berharap, melalui sosialisasi itu akan terbangun kerja sama yang sinergis antara Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota bersama seluruh komponen masyarakatnya. 

“Ke depan juga masih perlu kerja keras semua kita untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang belum sependapat tentang adanya kebijakan politik Pemerintah Aceh berkaitan dengan Wali Nanggroe beserta bendera Aceh, lambang Aceh, dan himne Aceh,” jelas Bustami Usman. 

sumber: Serambi-Indonesia

Minggu, 19 Maret 2017

BANGSA ACEH TERANCAM !!! Biksu Rilis Video Pasukan Elit dan Kebal Bor




Ancaman yang diteriakkan oleh seorang Biksu Myanmar akan melakukan aksi balas dendam ke Aceh, ternyata bukanlah HOAX dan gertakan saja. Baru-baru ini netizen dihebohkan dengan video yang memperlihatkan para pasukan elit ahli kungfu yang sedang berlatih dan mempertunjukkan keahliannya, dan akan segera dikirim ke Aceh.

Dalam video tersebut, terlihat ada tiga skill tenaga dalam yang dimiliki setiap personel, yaitu: kebal senjata, kebal bor listrik dan dapat melumpuhkan lawan sebanyak 10 orang dalam waktu 3 menit.

Segala jenis senjata yang terbuat dari besi tidak dapat menembus kulit. Hanya warna merah saja yang terlihat akibat terkena benda tajam. Begitu juga dengan aliran listrik, dalam skala tertentu, badan mereka akan tetap kebal dari sengatan listrik.

Biksu yang mendalangi pembantaian ratusan ribu muslim di Rohingya ini berjanji akan membalas perlakuan muslim di Aceh terhadap umat Buddha. Dikutip dari Aljazeera, Wirathu membanggakan pembunuhan massal yang telah dilakukan para pengikutnya.

“Para biksu sudah dibekali kemampuan militer. Kami tidak hanya akan mengusir umat muslim di Myanmar, tapi juga di Asia Tenggara ini. Agar kedamaian tercipta abadi,” ancamnya.

Biksu bernama lengkap Ashin Wirathu itu menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu.

Biksu yang bertanggungjawab atas tewasnya ribuan muslim Rohingya ini mengancam akan menyerang Aceh dan nelayan Indonesia yang ketahuan berlayar di area mereka.

Sepuluh tahun lalu, publik belum pernah mendengar nama biksu dari Mandalay tersebut. Pria kelahiran 1968 itu putus sekolah pada usia 14 tahun. Setelah itu, dia memutuskan untuk menjadi biksu.

Nama Ashin Wirathu mencuat setelah dia terlibat dalam kelompok ekstremis antimuslim “969” pada 2001. Karena aksinya, pada 2003 dia dihukum 25 tahun penjara. Namun, pada 2010 dia sudah dibebaskan bersama dengan tahanan politik lainnya.



Di Aceh, sebagaimana diketahui bahwa Untuk pertama kalinya Qanun Jinayat atau peraturan daerah yang mengatur hukuman pidana di Aceh diterapkan terhadap penganut Buddha. Eksekusi hukum cambuk itu dilakukan Jumat, 10 Maret 2017, terhadap dua orang penganut Buddha yang dituduh terlibat judi sabung ayam.

Alem Suhadi, 57 tahun, dan Amel Akim, 60 tahun, adalah keturunan etnis Cina dan termasuk minoritas Buddha. Mereka dicambuk di depan puluhan pejabat lokal dan ratusan penduduk di Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Kedua pria itu meringis karena menerima masing-masing sembilan dan tujuh cambukan di punggung mereka. Jumlah cambuk itu sudah dikurangi karena mereka telah ditahan lebih dari satu bulan sejak polisi menangkap mereka saat beradu ayam di Aceh Besar pada Januari 2017.

“Ketika mereka ditangkap, polisi menyita dua ekor ayam dan uang taruhan Rp 400 ribu,” kata jaksa Rivandi Aziz. 

Sabtu, 18 Maret 2017

BLANG PADANG Siapa Punya ???

Blang Padang
Sebuah Pesawat yang masih utuh di BLANG PADANG bernama SEULAWAH 01

RAGU-RAGU, PULANG...!!! Palang tulisan yang barangkali dimaksudkan untuk memicu keteguhan dan ketangguhan hati prajurit, sering kita temui di kawasan pemusatan latihan sampai komplek perumahan Militer di Indonesia. Dokrin "tak ragu-ragu" ini menjadi penting bagi prajurit dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan dalam mengamankan negara dari berbagai ancaman yang datang dari luar maupun dari dalam. 

Di Aceh, sikap tak ragu-ragu ini ternyata juga ditunjukkan Militer ketika mengklaim Blang Padang sebagai tanah Milik TNI. Tanpa Ragu-ragu dan bahkan "tanpa malu-malu" pihak Kodam Iskandar Muda berusaha untuk mempertahankan sikapnya tersebut dengan mengajukan berbagai dalih dan landasan pijak untuk membenarkan klaim sepihak mereka. 

Di Pihak lain Pemerintah Kota Banda Aceh, berpendapat bahwa sesungguhnya tanah Blang Padang itu adalah tanah Milik Rakyat Aceh, bujkan milik militer. Bahkan Ketua DPRA Hasbi Abdullah mendorong Pemerintah Aceh agar segera mengurus sertifikat tanah Blang Padang tersebut pada Badan Pertanahan Nasional. 

Hal inilah yang hari ini menjadi topik perdebatan sengit antara Kodam Iskandar Muda dan rakyat Aceh pada umumnya. Tapi, siapakah sebenarnya pemilik tanah Blang Padang tersebut ? Berikut ini kami kutip tulisan dari Bapak M Adli Abdullah, yang berhasil mengorek sejarah tentang status tanah Blang Padang yang menjadi objek sengketa tadi. Tulisan ini tentu sangat bermanfaat sebagai penguak tabir yang selama ini gelap, tentang sejarah dan fakta status tanah Blang Padang. 

Selamat membaca...

SENGKETA tanah Blang Padang kembali mencuat. Kasus ini bergemuruh setelah Kodam Iskandar Muda memasang papan nama, bahwa lahan public seluas delapan hektar lebih ini sebagai miliknya. Di pihak lain, DPR Aceh mendesak pemerintah Aceh untuk mengurus sertifikat tanah ke Badan Pertanahan Negara ( BPN). Opini dan iklan dukungan bermunculan di media massa hingga mengalir deras ke jejaring sosial. Pertanyaannya, siapakah sebenarnya pemilik lapangan ini ???.

Hampir seminggu saya mengotak atik dan menelusuri asbabul nuzul Desah Arafah alias Blang Padang. Akhirnya saya menemukan tulisan Karel Frederik Hendrik (KFH) Van Langen, pegawai pemerintah Belanda yang pernah ditugaskan di Kalimantan dan Sumatra Barat. Pada tahun 1879, dia diperbantukan pada kantor Gubernur Aceh dan daerah taklukannya, Aceh Barat, Aceh Tengah, Aceh Besar. Dia pula yang membiayai percetakan buku monumental karya Snouck Horgronje “ Atheheers” (E Gobee dan C Adriaanse: 1990). Van Langen pernah dipercayakan empat kali sebagai pejabat sementara Gubernur Aceh ( dari 1898 sampai dengan 1895) hingga ia meninggal dunia pada 18 April 1915 di Kota Ede, Gelderland, Belanda.

Van Langen menulis beberapa pengalamannya selama di Aceh. Di antaranya “De Inrichting Van Het Atjehschee Staatbestur Onder Het Sultanaat” pada tahun 1888 yang kemudian diterjemahkan oleh Prof Abubakar Aceh dengan judul Susunan Pemerintahan Aceh semasa kesultanan. Dalam buku ini disebutkan bahwa Blang Padang dan Blang Punge adalah Umeung Musara (tanah wakaf) Mesjid Raya Baiturrahman yang tidak boleh diperjualbelikan atau dijadikan harta warisan dan tidak ada pihak yang dapat menggangu gugat status keberadaan hak miliknya.

Tanoh meusarah digunakan sebagai sumber penghasilan imeuem Mesjid Raya Baiturrahman. Jika penghasilan dari tanah wakaf masjid ini tidak cukup membiayai Masjid Raya, maka dibantu oleh zakat padi atau barang barang lainnya dari penduduk yang berkediaman di sekitar masjid raya. Hasil tanah wakaf ini khusus untuk pemeliharaan masjid, seperti keperluan muazin, bilal, khatib dan kebutuhan lainnya. Jika ada perbaikan berat maka diminta bantuan pada penduduk.

Alkisah, ketika genderang perang Aceh vs Belanda dimulai pada 26 Maret 1873, Belanda melakukan kesalahan besar dalam sejarah invasi kolonialnya dengan menduduki dan membakar Masjid Raya Baiturrahman dengan melempar 12 granat pada Kamis, 10 April 1873. Rakyat Aceh makin marah, akibatnya berselang empat hari kemudian Belanda harus membayar mahal dengan tewasnya Jenderal J.H.R. Kohlier di halaman Masjid Raya pada 14 April 1873. Serdadu Belanda kabur ke Batavia pada 17 April 1873 (Paul Van Vier: 1979).

Belanda kembali melakukan invasi kedua pada 9 Desember 1873 dan 24 Januari 1874. Istana kesultanan Aceh berhasil diduduki setelah Sultan Alaidin Mahmudsyah (1870-1874M) meninggalkannya dan mengungsi ke Lueng Bata. Maka saat itu Letnan Jenderal Van Swieten mengumumkan pada dunia Internasional bahwa “Kerajaan Aceh, sesuai dengan hukum-perang (humaniter ) menjadi hak-milik Kerajaan Belanda” (Talsya: 1982). Seluruh kekayaan pribadi dan aset istana dirampas dan dijadikan milik pemerintah Belanda sesuai dengan asas hukum perang Reght van Over Winning (H.C. Zentgraaff:1981 ). Bekas istana ini dan aset pribadi Sultan Aceh ini kemudian dikuasai oleh KNIL Jepang, seperti Kuta Alam, Neusu, Kraton dan sejumlah asset lain yang sudah dialih fungsi saat ini.

Namun Masjid Raya dan aset wakafnya, ternyata tidak dirampas oleh Belanda untuk dijadikan sebagai harta rampasan hak menang perang sebagaimana berlaku asas Reght van Over Winning. Karena menurut Belanda ini (perang Aceh dengan Belanda ) bukan perang agama (perang Suci ), sehingga Masjid Raya Baiturahman yang telah dibakar pada 10 April 1873 dibangun kembali oleh Belanda pada Tahun 1879 oleh Gubernur Aceh Jenderal K Van der Heijden. Van Langen menulis dalam bukunya, bahwa tanah tersebut sebagai tanah meusara Masjid Raya dan tidak bisa dipindahtangankan. (Van Langen: 1888).

Jadi, secara jelas dapat dikatakan bahwa serambi Masjid Raya Baiturrahman adalah Blang Padang yang sempat digunakan sebagai lapangan olahraga dan pada tahun 1981 berganti nama menjadi Desah Arafah dan tempat arena MTQ Nasional. Karenanya, tidak heran di Blang Padang dari dulu menjadi tempat salat hari raya idul fitri dan idul adha, tidak dilaksanakan di lapangan lain karena tanah itu adalah milik Masjid Raya Baiturrahman. Dan keberadaan Blang Padang merupakan denyut nadi kehidupan masjid Mesjid Raya Baiturrahman dan Belanda Belanda sangat menghormatinya.

Menindaklanjuti polemik saling klaim antara pemerintah Aceh dan Kodam Iskandar Muda, dan hampir setiap hari ada iklan dukungan dari pemerintah kabupaten/ kota agar pemerintah Aceh dapat mensertifikasi tanah Blang Padang atasnama pemerintah Aceh sedang pihak TNI mengklaim itu adalah miliknya. Maka yang perlu dilakukan agar kedua belah pihak ikhlas mengembalikan tanah Blang Padang sebagai aset wakaf dan menjadi musara Mesjid Raya Baiturrahman yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan umum seperti yang dilakukan sebelumnya .

Sebenarnya, masih banyak tanah tanah wakaf di Aceh yang masih perlu dibenahi sehingga tidak beralih fungsi dan kepemilikannya. Pemerintah Aceh harus belajar terhadap hal yang dilakukan Baitul Asyi di Mekkah al Mukaramah Saudi Arabia. Mereka mampu mengelola tanah tanah wakaf Aceh sudah ratusan tahun, meskipun sudah sekian kali dinasti berkuasa berganti. Sampai sekarang hasilnya masih bisa diperoleh para jamaah asal Aceh yang menunaikan ibadah haji. Para jamaah Aceh diberikan ganti berupa uang pemondokan jamaah haji sesuai dengan amanah wakaf di waktu kerajaan Aceh dahulunya.

Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa menjinakkan “nafsu ingin menguasai” harta milik Allah itu, dan Blang Padang dapat dikembalikan sebagai aset mesjid Raya Baiturrahman kembali. Sebab penjajah Belanda saja sangat menghormatinya, kenapa kita tidak.

M. Adli Abdullah - Opini
*Penulis Adalah Dosen Fakultas Hukum Unsyiah.


Selasa, 07 Maret 2017

Luka Lama : (TRAGEDI BERDARAH SIMPANG KKA)


Luka Lama : TRAGEDI BERDARAH SIMPANG KKA
Luka Lama : " TRAGEDI BERDARAH SIMPANG KKA"
Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. 

Karenanya, saban tahun masyarakat Aceh khususnya yang bermukim di daerah Simpang KKA Gampong Paloh Lada, Dewantara, Aceh Utara memperingati sekaligus mengenang terjadinya peristiwa berdarah yang sering disebut dengan tragedi berdarah Simpang KKA.

Ini adalah peristiwa penembakan secara brutal oleh aparat TNI pada tahun 1999 yang mengakibatkan puluhan korban rakyat biasa tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Kamis, 02 Maret 2017

Surat Dari ACEH Untuk RAJA SALMAN

Surat Dari ACEH Untuk RAJA SALMAN
Kedatangan Raja Salman ke Indonesia pada Rabu besok 1 Maret 2017 diwarnai berbagai tanggapan dari masyarakat Aceh, bahkan dikalangan ulama dayah ada yang menulis surat terbuka kepada pemimpin dua kota suci umat Islam (Mekkah dan Madinah) itu.

Hal ini seperti dilakukan oleh Tgk Hamdani, juru bicara alumni dayah Nudi Meurah Mulia, Aceh Utara ini menulis surat terbuka kepada Raja Salman.

Dalam surat yang dikirim ke mediaaceh.co itu dia mengatakan bahwa rakyat Aceh menunggu kedatangan Raja Salman ke Aceh Serambi Mekkah. Dia juga meminta Raja Salman menjaga Baitul Asyi peninggalan orang Aceh yang ada di Arab Saudi.

Senin, 18 April 2016

Ini Kabar Terbaru Soal Rencana Kunjungan Zakir Naik ke Indonesia


Kabar rencana kedatangan DR Zakir Naik, ulama kristolog internasional ke Indonesia sangat dinanti-nanti berbagai kalangan.

Rencananya, April 2016 Zakir Naik akan menjadi pembicara talkshow di sejumlah kota di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Ponorogo, dan Surabaya.

Namun kapastian waktu kedatangannya pun ternyata masih diusahakan oleh panitia. Hal ini dijelaskan oleh Hamid Fahmi Zarkasyi, Wakil Rektor Univeristas Darussalam (Unida) Gontor, Jawa Timur.

Menurut Hamid Fahmi, Zakir Naik masih belum bisa dikonfirmasi dan panitiapun belum mendapatkan kepastian darinya soal kedatangan kristolog asal Mumbai, India tersebut.

“Masih belum ada kepastian dari beliau,” ujar Hamid Fahmi kepada Voa-Islam, Selasa (29/3/2016) malam.

Menurutnya waktu perkiraanpun kunjungan Zakir Naik masih belum bisa disampaikan. Namun, Ustadz Hamid memastikan kedatangan Zakir Naik setelah Lebaran Idul Fitri.

“ Belum ada kisi-kisi waktu, tapi pasti habis lebaran,” kata Hamid Fahmi.

Seperti dikabarkan Voa-Islam sebelumnya, Zakir Naik direncanakan akan berkunjung ke Indonesia untuk mengisi talkshow. Kunjungan Zakir Naik ke Indonesia ini diupayakan oleh Unida Gontor. ( Baca juga: April, Zakir Naik Dijadwalkan Berceramah di Terengganu ).

Namun, mengingat padatnya jadwal dakwah Zakir Naik, kunjungan ke Indonesia akan ditunda. Terkait kabar kedatangan Dr Zakir Naik ke Indonesia di acara Talk Show yang akan digelar UMY (Yogyakarta) April mendatang, pihak manajemen Zakir Naik mengklarifikasi bahwa pihak Zakir Naik belum mengkonfirmasi bisa/tidaknya untuk ke Indonesia.

Hal ini disampaikan Abdul Malik Badeges, salah seorang tim Dr Zakir Naik di Mumbai, India.

"DZN (Dr Zakir Naik) sudah menerima undangan dari Yogyakarta tapi belum konfirmasi karena undangan yangpending berjumlah 4000 lebih di mejanya. Pagi ini saya berbincang mengenai rencana tour ke depan, Dubai, Malaysia, Korea, dll. Jadi, Indonesia belum masuk list," tulis Abdul Malik Badeges, yang diketahui sebagai staf Zakir Naik di laman facebooknya belum lama ini

Minggu, 17 April 2016

"APAM ACEH" SERABI KHAS ACEH

Apam Aceh
Apam Aceh

TRADISI Khanduri Apam ini berasal dari seorang sufi yang sangat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin ini yang bernama Abdullah Rajab, dia adalah seorang zahid yang rela memalingkan dirinya dari kesenangan dan kenikmatan duniawi, dia juga dikenal oleh masyarakat setempat sangat taat beribadah. 

Berhubungan dia sangat miskin, ketika dia meninggal tidak ada satu biji kurma pun yang disedekahkan orang sebagai kanduri atas kematiannya karena kehidupannya yang sebatang kara tidak memiliki sanak keluarga. Keadaan yang menghibakan dan menyedihkan hati ini.

menimbulkan rasa kasihan masayarakat setempat untuk mengadakan sedikit khanduri selamatan di rumah masing-masing untuk disedekahkan kepada orang lain, itulah tradisi toet apam yang saat ini masih dilaksanakan Masyarakat Aceh pada bulan Rajab.

Tidak hanya di bulan Rajab saja, kanduri apam juga sering diadakan untuk kanduri bagi orang sudah tiada, seperti kanduri hari ke 44 setelah salah satu kerabat atau keluarga meninggal dunia, kanduri ini biasanya disajikan kepada orang lain dan juga mengundang anak-anak yatim untuk menyantap hidangan tersebut. 

Apam adalah kue tradisonal Aceh, kue satu ini terbuat dari tepung beras, santan, gula pasir dan sedikit garam yang diaduk secara bersamaan, Kue ini biasanya disajikan dengan kuah khasnya, santan yang dimasak dengan campuran pisang yang di iris-iris menurut selera dan sedikit buah nangka yang sudah masak. 

Kue ini biasanya dimasak oleh ibuk-ibuk dengan bergotong – royong dengan sanak keluarga atau tetangga dan kue ini khusus disajikan pada waktu-waktu tertentu seperti Bulan Ra’jab atau yang disebut juga dengan Buluen Apam dan juga biasanya untuk menyambut datangnya bulan Puasa Ramadhan. 

Kue ini dimask dengan dengan cara yang khas, biasanya dipanggang diatas arang dengan menggunakan buelangong tanoh atau tembikar yang didalamnya dimasukkan garam sedikit dan digoso-gosok dengan ampas kelapa, agar terasa asinnya apabila nanti kue tersebut dibakar. 

Kue unik ini berbentuk bulat seperti piring dengan warna atasnya putih dan bawahnya agak kecoklatan karena setengah hangus waktu dibaka agar mengembang dengan tengah-tengahya lobang . 

Ingat kue ini maka akan teringat kampung halaman, Mungkin untuk sebagian orang aceh yang merantau keluar keluar maupun dalam negri, apabila mendengan kue satu ini atau teringan bulan Rakjab akan segera ingin pulang ke kampung halaman.

karena rasanya yang khas membuat selalu ingat kepada oarang-orang terdekat seperti orang tua kita di kampung yang apabila sudah datangnya bulan rakjab akan berkumpul bersam-sama dengan tetangga dan sanak saudara untuk memasak kue ini atau yang di sebut toet apam. 

Karna dibulan rakjab punya cerita tersendiri, bukan hanya dengan puasa sunannya yang berlimpah fahala tapi dengan memberi kanduri kepada orang lain juga cukup besar fahala yang didapatkan, bulan rakjab memang terasa sangat spesial bagi Orang Aceh.

Rabu, 06 April 2016

ACEH LON GADOH ALEH HO !!!

BELUM usai berita duka buat nurani yang baru saja disakiti dengan tergoresnya nama mulia Aceh yang tersayat, karena ulah oknum yang tak bertanggung jawab di pusat ibu kota negara bangsa yang konon katanya berbudaya ini, hanya karena ingin maju ke pemilihan “Putri negeri” haruskah mengorbankan jati diri kami sebagai pewaris Tanoh Rincong bumoe Aulia yang mulia ini.

Hanya tak sudi duduk manis sebagai penonton, lantas mencoba mendaftarkan diri sebagai peserta dengan membawa dan mengatasnamakan diri sebagai wakil dari Aceh, di kontes Miss Indonesia 2016 yang berlangsung baru-baru ini di Jakarta. Padahal masyarakat maupun pemerintah Aceh tak pernah mengirimkan pesertanya ke ajang tersebut.

Miris sekali rasanya, saat luka lama belum sembuh, tergores pula luka baru yang lebih dalam. Di tengah-tengah tuntutan pemuda pemudi terhadap “putri” yang gagal terpilih di ajang Miss Indonesia 2016 tersebut, kembali lagi hati ini terluka saat dihadapkan dengan sebuah event pemilihan model baru-baru ini, di satu hotel berbintang di Banda Aceh. Para putri jelita yang baru menginjak usia remaja hingga dara dewasa --dengan mengatasnamakan keindahan seni dan kebebasan berekspresi-- mengikuti kontes pemilihan model terbaik daerah untuk selanjutnya ke tingkat Nasional.

Tidak ada yang salah dari nama kegiatan acara, kepanitiaan, pendaftaran hingga keikutsertaan para peserta dalam acara tersebut. Semua mungkin berjalan sebagaimana diharapkan, kesalahannya adalah pada tempat letak wilayah acara diselenggarakan. Ini Aceh bukan tempat yang tepat jika yang diharapkan seperti itu. Ini Aceh, bukan Jakarta, bukan Bandung atau provinsi lainnya. Setiap proses pelaksanaan kegiatan di Aceh punya aturan, tata laksana eksekusi hingga ketentuan yang berlaku.

Negeri syariat

Ini Aceh negeri yang sedang menata kembali kehidupannya pascakonflik berkepanjangan dan musibah tsunami, hingga kemelut politik dan kepentingan yang semakin hari semakin menjadi. Hiruk pikuk persoalan demi persoalan yang bermunculan, nama baik Aceh dan agama Islam pun menjadi tujuan utama yang dipertahankan. Di sini negeri dengan qanun syariat Islam menjunjung tinggi moral dan ilmu pengetahuan.

Ini Aceh, boleh saja menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit penyelewengan syariat yang terjadi, namun tidak sedikit pula semangat putra-putri negeri untuk muncul dan semakin ingin menjaganya. Identitas perempuan Aceh yang shalihah, santun, berbudi luhur dan tegas dalam bersikap telah terukir rapi sejak tempo doeloe. Putri Aceh tidak lemah, putri Aceh tidak loyo, santun, teguh dan tegas dalam berprinsip, hingga tak mudah ditaklukkan dengan tipu daya orang asing yang datang. Terbukti dalam sejarah, berapa banyak pejuang wanita yang lahir dari Nanggroe ini? Berapa banyak yang mempertahankan kedaulatan negeri? Berapa banyak yang dengan bismillah berperang rela mati? Berapa banyak pula yang menjadi panglima perang dalam mengusir penjajah di tanah Pertiwi?

Putri Aceh bermartabat hingga tak mampu dijadikan budak sahaya pelampiasan nafsu durjana penjajah. Putri Aceh bermoral hingga tak mudah memamerkan bagian tubuhnya terpajang dan disaksikan oleh khalayak ramai. Puteri Aceh begitu mulia sesuai dengan amanah Alquran dan hadis yang mulia. Putri Aceh adalah jiwa semangat negeri ini, ibarat tiang sokong sebuah bangunan, jika tiangnya patah maka luluhlantaklah bangunan ini.

Jika engkau para wanita tiang negara, cicit dari panglima perang wanita teragung di dunia bernama Keumalahayati, cucu Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan pahlawan wanita lainnya di Aceh ini. Lantas wajarkah jika engkau sia-siakan perjuangan mereka, menodai darah mereka dengan tingkah lakumu yang telah jauh dari jati dirimu yang sesungguhnya? Ke mana hati nuranimu? Apakah kandas dan hilang bersama hilangnya malumu, hingga tak risih lagi saat sekujur tubuhmu dinikmati oleh mata-mata yang bukan mahram-mu.

Di mana identitasmu sebagai wanita beragama, berakhlak dan berilmu pengetahuan? Jika kita sendiri tidak sudi menjaganya, maka wajar saja di luar sana ada sekelompok wanita lainnya yang menyalahartikan keindahan seni dan melupakan nilai budayanya, berani melucuti benang-benang pakaian Aceh ini hingga nantinya kita menjadi generasi yang tak tahu malu.

Saat sedang berlangsungnya acara kontes model tersebut, tanpa diduga hadir di sana Wali Kota Banda Aceh yang akrab disapa dengan panggilan Bunda Illiza, yang datang tiba-tiba dengan beberapa staf yang mendampinginya. Beliau langsung saja beliau mengambil alih dan membubarkan acara tersebut, seraya mengajak para panitia dan pihak terkait dengan penyelenggaraan acara ini menuju ke Balai Kota Banda Aceh untuk audiensi dan berdialog.

Patut dicontoh
Sebuah pemandangan haru dan inspiratif kala seorang pemimpin yang telah berjanji pada rakyatnya akan selalu siap menjadi mitra masyarakat dalam penerapan syariat Islam, muncul dan membuktikan keseriusannya dalam memimpin dan memangku amanah. Satu hal yang patut dicontoh oleh para pemimpin pemerintahan kabupaten/kota, bahkan provinsi lainnya sekalipun. Keberanian dan ketegasan tersebutlah yang merupakan satu dari warisan akhlak yang diwarisi para leluhur wanita dari zaman dulu bahwa masyarakat mengimpikan pembuktian terhadap janji demi janji yang telah di sampaikan.

Inilah pemimpin wanita yang dirindukan, mudah-mudahan ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintahan kota madani, namun kita juga menunggu karya bakti pemimpin lainnya di bumi Serambi Mekkah ini. Atau bila mungkin, kita juga harapkan kepada para kandidat calon yang telah mengusungkan dirinya menjadi eksekutif setahun ke depan nantinya, dengan sudah adanya peraturan saja masih terjadi penyelewengan seperti ini, bagaimana jika tidak, lantas pentas apalagi yang akan kita tunggu?

Tidak hanya kontes itu saja, tontonan VCD klip lagu dan film Aceh juga perlu kajian khusus sebagai wujud peningkatan nilai syariat Islam di Aceh. Pasalnya VCD klip yang kerap ditonton oleh semua lini masyarakat pun juga ikut meresahkan dengan aksi para talent yang dicontoh oleh generasi kita. Artinya, jika contoh baik yang didapat maka baiklah pula yang dibuat, namun jika contoh buruk yang diikuti, maka wassalamu’alaikum identitas Aceh dan moral bangsa ini.

Kita tentu tidak ingin identitas dan budaya Aceh yang islami ini hilang, lenyap, dan tak terwarisi kepada anak cucu generasi penerus kita. Kita tentu tak ingin identitas dan budaya Aceh yang bermartabat ini hilang entah kemana, seperti lirik lagu Boh Hate Bergek yang saat ini sedang hit di tengah masyarakat Aceh. Jadi, jangan sampai suatu saat nanti kita menyesali dan meratapi nasib, mencari identitas dan budaya kita yang hilang; Aceh lon gadoh aleh ho. Nah!

Zul Afrizal, S.Pd.I, M.A., Guru SMA Negeri 2 Nisam, Aceh Utara. Email: zulafrizal@gmail.com

Selasa, 05 April 2016

Ternyata Begini Sejarah Terompet Tahun Baru Masehi, Muslim Silahkan Baca

Ternyata Begini Sejarah Terompet Tahun Baru Masehi, Muslim Silahkan Baca
Ternyata Begini Sejarah Terompet Tahun Baru Masehi, Muslim Silahkan Baca

Menjelang pergantian menuju tahun baru, Kita sering melihat penjual terompet berkeliaran, dari pedagang kaki lima sampai toko dan gerai di mall-mall besar ramai menjual terompet untuk dirayakan di malam tahun baru.

Namun, hingga sampai saat ini tidak banyak orang yang mengetahui mengapa 'terompet' sering dipakai untuk menyambut datangnya tanggal 1 Januari!! Sebagian besar dari mereka juga tidak paham sejarah yang sebenarnya tentang perayaan meniup terompet di tahun baru.

Perlu kita ketahui, Bahwa tradisi meniup terompet pada aslinya adalah budaya kaum Yahudi untuk menyambut tahun baru bangsa mereka yang jatuh pada bulan ke tujuh pada sistem penanggalan mereka (bulan Tisyri). Meskipun setelah itu mereka merayakannya di bulan Januari sejak berkuasanya bangsa Romawi kuno atas mereka pada tahun 63 Sebelum Masehi. Sejak saat itulah mereka selalu mengikuti kalender Julian yang kemudian dirubah menjadi kalender Masehi alias kalender Gregorian.

Di malam tahun baru, kaum Yahudi melakukan introspeksi diri dengan tradisi meniup shofar (serunai), sebuah alat musik sejenis terompet. Bunyi shofar memang mirip sekali dengan bunyi terompet kertas yang dibunyikan orang-orang Indonesia di malam Tahun Baru.

Sebenarnya shofar (serunai) sendiri memang merupakan salah satu jenis dari terompet. Dan Terompet sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1.500 sebelum Masehi. Mulanya, alat musik jenis ini diperuntukkan untuk keperluan ritual agama dan juga digunakan dalam acara militer, Biasanya dibunyikan ketika para tentara akan berperang. Kemudian terompet dijadikan sebagai alat musik pada kurun pertengahan Renaissance hingga sekarang.

Para pembaca yang budiman, inilah sejarah terompet dan asal penggunaannya. Ini merupakan syi'ar dan simbol keagamaan bangsa yahudi saat merayakan pergantian hari menuju tahun baru. Selain itu, terompet juga dipakai oleh bangsa Yahudi untuk mengumpulkan manusia saat mereka ingin beribadah dalam sinagoge (tempat ibadah) mereka.

Hal ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu- saat beliau berkata,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِي بِالصَّلاَةِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ

“Dulu kaum muslimin ketika datang ke Madinah, mereka berkumpul seraya memperkirakan waktu sholat yang (saat itu) belum di-adzani. Di suatu hari, mereka pun berbincang-bincang tentang hal itu. Sebagian orang diantara mereka berkomentar, “Buat saja lonceng seperti lonceng orang-orang Nashoro”. Sebagian lagi berkata, “Bahkan buat saja terompet seperti terompet kaum Yahudi”. Umar pun berkata, “Mengapa kalian tak mengutus seseorang untuk memanggil (manusia) untuk sholat”. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Wahai Bilal, bangkitlah lalu panggillah (manusia) untuk sholat (adzan-admin)”. (HR. Bukhori dan Muslim)

فعن أبي عميرٍ بن أنسٍ عن عمومةٍ له من الأنصار قال: “اهتم النبي – صلى الله عليه وسلم – للصلاة كيف يجمع الناس لها؟ فقيل له: انصب راية عند حضور الصلاة فإذا رأوها آذن بعضهم بعضاً، فلم يعجبه ذلك، قال: فذكر له القنع يعني الشبور (هو البوق كما في رواية البخاري) ، وقال زياد: شبور اليهود، فلم يعجبه ذلك، وقال: ((هو من أمر اليهود))، قال فذكر له الناقوس، فقال: ((هو من أمر النصارى))، فانصرف عبد الله بن زيد بن عبد ربه وهو مهتمٌ لهمِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، فأُريَ الأذان في منامه

Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah anshor, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai teropet. Nabipun tidak setuju, beliau bersabda, ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pulang dalam kondisi memikirkan agar yang dipikirkan Nabi. Dalam tidurnya, beliau diajari cara beradzan.” (HR. Abu Daud, shahih)

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, “Terompet dan sangkakala sudah dikenal. Maksudnya (hadits ini), bahwa terompet itu ditiup lalu berkumpullah mereka (orang-orang Yahudi) saat mendengar suara terompet. Ini adalah syi’ar kaum Yahudi. Ia disebut juga dengan shofar (serunai)”. [Lihat Fathul Bari (2/399), cet. Dar Al-Fikr]

Abul Abbas Al-Harraniy berkata,

"Tujuan kita disini bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala membenci terompet Yahudi yang tertiup dengan mulut dan lonceng Nashoro (Kristen) yang dipukul dengan tangan, maka beliau menjelaskan sebab (beliau membenci terompet) bahwa ini (terompet Yahudi) termasuk urusan agama Yahudi, dan beliau menjelaskan sebab (beliau membenci lonceng) bahwa ini (lonceng Nashoro) termasuk urusan agama Nashoro."

Karena penyebutan sifat setelah hukum menunjukkan bahwa ia adalah sebab bagi kebencian tersebut. Ini mengharuskan pelarangan dari segala perkara yang termasuk urusan agama Yahudi dan Nashoro”. Demikianlah perkaranya. Padahal terompet Yahudi, konon kabarnya ia terambil dari Musa –alaihis salam- dan bahwa di zaman beliau terompet ditiup. Adapun lonceng, maka ia perkara yang diada-adakan. Sebab mayoritas syariat kaum Nashoro telah diada-adakan oleh para pendeta dan ahli ibadah mereka.

Kebencian Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- terhadap terompet Yahudi dan lonceng Nashoro demi menyelisihi mereka. Ini menuntut dibencinya jenis suara ini secara mutlak pada selain sholat juga. Karena hal itu termasuk urusan agama Yahudi. Sebab orang-orang Nashoro memukul lonceng di luar waktu-waktu ibadah mereka…Sungguh kebanyakan orang dari kalangan umat ini (baik raja, maupun selainnya) telah tertimpa oleh syi’ar Yahudi dan Nashoro ini”. [Lihat Al-Iqtidho’ (5/19)]

Jika ada yang berkata, “Ini khan sekedar tiup terompet, kenapa dilarang?“

Maka jawabannya : Keserupaan fisik dan dzahir bisa membuat kedekatan hati dan batin. Contoh sederhananya, misalnya jika seseorang bertemu dengan orang lain yang seragamnya sama, maka ia akan langsung merasa dekat dan bisa jadi akrab. Inilah penyebab dilarangnya menyerupai suatu kaum diluar Islam.

Oleh karena itu, perbuatan ini kita harus jauhi, Karena Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR. Abu Dawud (4031). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)]

Meskipun dalam hal yang mungkin dianggap remeh seperti terompet, Namun Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan secara tegas. Karena sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal dan mulai dari hal yang kecil akan mengikuti mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (4 HR. Muslim)

Berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah dan yang lainnya dari kalangan tabi'in,

ولهذا كان (2) السلف (3) سفيان بن عيينة (4) وغيره، يقولون: إن (5) من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود! ومن فسد من عبّادنا ففيه شبه من النصارى

"Sungguh orang yang rusak dari kalangan ulama kita, karena penyerupaannya dengan Yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, karena penyerupaannya dengan Nashrani." (5 Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim 1/79 Dar A’Alamil Kutub, Beirut, cet. VII, 1419 H, tahqiq: Nashir Abdul Karim Al-‘Aql, syamilah)

Orang nashrani dan yahudi tidak akan ridha sampai kita mengikuti mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)

Terakhir, setelah kita mengetahui hukumnya, kami nasihatkan kepada kaum muslimin agar menjauhkan terompet-terompet Yahudi dari anak-anak dan rumah-rumah kita. Sebab, benda itu hanyalah mengingatkan kita kepada agama dan syi’ar agama mereka!!!

Wallahu Waliyyut Taufiiq/
Sumber; Kompas
 
Copyright © 2013 .
Shared by Nanggroe Seuramoe. Powered by BEK MUMANG BEEH..!